Semua negara didunia ini memandang kepahlawan atau syahid sebagai suatu hal yang suci dan mulia. Syahid kembali pada seseorang yang gugur ketika membela suatu agama dan negara atau mempertahankan harta dan diri (jiwa)nya. Akan tetapi, kemuliaan yang diberikan kepada syahid dan syahadah tidak akan sebagaimana yang diberikan oleh Syairiat Islam, tidak akan terdapat dalam agama atau negara manapun. Sebagaimana diterangkan dalam riwayat Aimah as dalam haditsnya dimana syahid bukan saja untuk mereka yang gugur ketika membela negara dan dirinya, tapi juga seseorang yang mati dalam cinta kepada Keluarga Muhammad akan dinyatakan sebagai syahid. Keutama syahid yang diterangkan oleh Aimah as tidak akan bertemu dengan konsept negara dan agama manapun.
Status Syahid dalam Islam
Semua negara didunia ini memandang kepahalawan atau syahid sebagai suatu hal yang suci dan mulia. Syahid kembali pada seseorang yang gugur ketika membela suatu agama dan negara atau mempertahankan harta dan diri (jiwa)nya. Akan tetapi, kemuliaan yang diberikan kepada syahid dan syahadah tidak akan sebagaimana yang diberikan oleh Syairiat Islam, tidak akan terdapat dalam agama atau negara manapun. Sebagaimana diterangkan dalam riwayat Aimah as dalam haditsnya dimana syahid bukan saja untuk mereka yang gugur ketika membela negara dan dirinya, tapi juga seseorang yang mati dalam cinta kepada Keluarga Muhammad akan dinyatakan sebagai syahid. Terutama syahid yang diterangkan oleh Aimah as tidak akan bertemu dengan konsept negara dan agama manapun.
Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Imam Maksum as, selain dari syahid dalam membela negara dan dirinya, seorang yang meninggal dalam cintanya kepada keluarga Muhammad SAWA juga dinyatakan meninggal sebagai syahid. Rasulullah bersabda:”Seorang yagmeningal dalam cinta kepada keluarga Muhammad, meninggal sebagai meninggalnya seorang syahid”.
Penyebab kesyahidan
Seorang yang meninggal dalam peperangan dijalan Allah, seorang yang terbunuh ketika mempertahankan diri dan harta, terbunuh ketika mempertahakan atau menjaga seorang yang suci, meninggal ketika berperang melawan musuh Imam as, meninggal ketika dipenjara/tahanan, terbunuh ketika mempertahankan muslimin dan uga meninggal dalam cinta kepada kelaurga Muhammad sawa, semuanya adalah penyembab seseorang dinyatakan sebagai mati syahid.
Berperang dijalan Allah
Perjuangan dijalan Allah ini mencakup untuk memperkuat Islam dan usaha menjalankan atau melaksanakan hukum. Keduanya merupakan contoh jelas tentang perjuangan di jalan Allah. Berkenaan dengan ini Allah berfirman dalam Quran:”Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar benarnya, Dia telah memilih kamu dan Dia sekali kali tidak menajdikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.(ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim, dia (Allah) telah telah menamai kamu sekalian orang orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kamu dan supaya kamu menjadi saksi atas segenap manusia…”(Al Hajj 78). Banyak lagi ayat ayat Quran yang mendorong orang untuk berjihad dijalan Allah. Begitu juga banyak hadits yang memberikan motivasi orang untuk berjihad di jalan Allah.
Abu Hamzah berkata; saya mendengar dari Imam Ja’far Shadiq bersabda:”Sesungguhnya saya mendengar Ali bin Husein as menyampaikan sabda Rasulullah sawa:”Paling baiknya darah yang tumpah dihadapan Allah adalah darah yang tumpah di jalan Allah”. (Wasail Syiah jld 6 hal 10 hds 20).Sakuni meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as yang diriwatkan dari datuknya Rasullah sawa:”Dari setiap perbuatan baik ada perbuatan baik lagi diatasnya hingga sampai pada terbunuh dijalan Allah. Tidak adalagi yang lebih baik dari pada terbunuh dijalan Allah”.(Wasail Syiah jld 6 hal 10 hds 21). Hadits lain menyatakan:” Bagi seseorang yang terbunuh dijalan Allah, Allah tidak akan menghitung apapun dari dosa dosanya”.(Wasail Syiah jld 6 hal 9 hds 19).
Perang menghadapi diri sendiri (ego)
Satu pujian yang tinggi tentang peperangan melawan diri sendiri (ego). Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah mengirim tentara ke medan perang. Ketika mereka pulang dengan membawa kemenangan, Rasulullah memberikan pujian kepada mereka dan berkata:”Selamat bagi mereka yang telah berjuang di jalan Allah. Sekarnag masih ada perjuangan yang lebih besar. Mereka meminta kepada Rasulullah untuk menjelaskan apakah itu perjuangan yang lebih besar. Rasul menjawab:”Perang melawan diri sendiri (nafsu-ego)”. (Wasail Syiah, jld 6, Bab Jihad melawan nafsu, hal 22 hds 1).
Dalam hadits yang lain, dinyatakan bahwa semua harus selalu bersiap siaga terhadap musuh, seperti menjada dirinya atau dirinya akan merusaknya. Muzaffar bin Umar meriwayatkan dari Imam Shadiq as:”Apabila hati seseorang tidak menasehatkan dirinya atau memperingatkan dirinya tentang ego (nafsu) dan tidak juga membimbing sahabatnya, maka musuh akan mengusainya”. (Wasail Syiah jld 6 hal 123 hds 5). Banyak lagi hadits dalam kitab wasail syiah jilid 6 tentang jihad.
Hukum syahid di medan perang
Seorang yangmendapatkanizin dari Rasul dan Imam untuk pergi perang dan terbunuh dimedan perang, maka diriwaatkan bahwa; dia harus dimakamkan dengan baju yang sama (yang dipakainya ketika ia gugur) dan tanpa harus dimandikan lagi (ghusl mayyid), langsung saja di shalatkan.
Imam ja’far shadiq bersabda:”Seorang yang gugur dimedam perang harus dimakamkan dengan baju yang sama (yang dipakai ketika dia gugur) tampa harus dimandikan lagi” (Wasail Syiahjld 9 hal 112, BAb memandikan jenazah). Ayatullah Sistani hf mengatakan:”Seseorang yang luka dan kemudian meninggal sebelum tentara Islam menghampirinya, maka tidak ada mandi tiga (air) baginya”(Minhajul Shalihin jld 1 hal 100 masalah 282). Riwayat yang menyatakan bahwa syuhaa’ tidak wajib dimandikan dan harus dikubur dengan pakaiannya kecuali jaket kulit (kalau sedang memakinya)dan juga sepatu bot,maka harus dilepas. Juga darah yang ada pada tubuh syahid tidak harus dibersihkan, begitu menurut sebagian riwayat.
Shalat mayyid wajib bagi jasad syahid
Ali Ibrahim dalam tafsirnya menuliskan bahwa ketika selesai dari perang Uhud Rasullah memerintahkan untuk mengumpulkan jasad para syuhada’. Kemudian Rasullah memsolatkan jenazah syuhda’ dan baru dikebumikan. (Mustadrakul Wasail jld 2 hal 265 hds 15)
Syahid dalam bukunya Syarh Lum’ah Dimsyiqiyah menuliskan:” Syahid tidak perlu dimandikan dan dikafani, dia perlu dishalatkan sebelum dikuburkan”.(Syarh Lum’ah jld 1 kitab thaharah, bab hukum ghusul mayyid).
Hukum syahid selain perang
Seorang yang meninggal ditanah rantau, maka matinya mati syahid, seorang yang meninggal ketika menuntut ilmu maka mati syahid, seorang yangmeningal di hari Jum’at maka mati syahid, mati dalam cinta kepaa kelaurga Rasulullah, mati syahid. Begitu juga seorang wanita yang meninggal dalam keadaan nifas atau mempertahakankan harta dan jiwa,maka mati syahid. Semua kondisi ini tetap terkena kewajiban untuk dimandikan dan dikafani serta dishalati sebelum dikuburkan. (Syarah Lum’ah, kitab Thaharah, ahkam ghusl amwat). Dalam Daimul islam, hadits diriwatkan oleh Imam Ja’far Shadiq as:”Seorang syahid yang gugur dimedan perang harus dikuburkan dengan baju yang sama(ketika dia gugur)tanpa harus dimandikan. Tapi kalau dia hidup (berkepanjangan) sebelum kematiannya dimedan perang, maka baginya wajib mandi mayid dan kafan”. (mustadrakul Wasail jld 2 hal 278 hadits 1).
Status Syahid
Membicarakan status syahid seperti membawa lampu pelita ditengah pancaran sinar matahari, tapi untuk memperhitungkannya akan sangat penting, sehingga perlu untuk mendiskusikannya. Allah bersabda dalam Quran:”Dan apabila kamu terbunuh dijalan Allah atau mati, tentulah ampunan Allah bagi mu dan kasihnya lebih baik dari apapun yang mereka kumpulkan”.(Ali Imran 157). “Dan jangan engaku kira mati dijalan Allah sebagai mati, tapi mereka hidup dengan rizki Allah…(Ali Imran 169). Dan banyak lagi ayat ayat Quran yang menyatakan ketinggian posisinya dihadapan Allah, pengampuananNya, kedeaktannya dengan Allah, dan kehidupannya yang dijamin Allah diakherat nanti seperti dalam surah: Muhammad 4-6, Taubah 111, Nisa 74.
Begitu juga banyak hadis tentang status syuhada’ diantaranya:Imam Ja’far Shadiq bersabda:”Paling baiknya mati adalah syahid” (Biharul anwar jld 10 hal 8 hds 4). ”Orang yang paling baik masuk sorga adalah syahid”. Tiga kelompok yang akan meminta sayafaat dihari kiamat nanti, dan Allah mengabulkan permohonan mereka. Mereka adalah Rasulullah, ulama dan syuhada”.
Posisi Syuhada’
“Mereka mendapatkan nikmat dari Allah dan keutamaan(Nya), Allah tidak akan menghilangkan pahala orang orang yang beriman”.(Ali Imran 171). Diriwayatkan tentang kenikmatan yang akan mereka miliki disorga dan juga dinyatakan dari Rasulullah: Ketika para syuhada’ melihat posisi mereka, maka mereka meminta kepada Allah; kami berharap orang orang dekat dan keluarga melihat posisi ini. Jawaban datang dari sisi Allah. Kami akan beritahu mereka sehingga merekapun akan bergembira. Dan ketika itulah ayat diatas diturunkan.
Banyak juga riwayat yang menyatakan bahwa tubuh Rasullah, ulama dan syuhda’ serta pembawa Al Quran akan tetap terhormat dan tidak akan hilang begitu saja. Diriwayatkan dari Imam Ali bin Musa Ar Ridha as yang membawakan hadits dari datuknya Amiril Mukminin Ali as, beliau menceritakan tentang orang yang bertanya perihal perjuang di jalan Allah. Katika itu orang tersebut berdiri dan bertanyakepada imam Ali as:”Apa yang akan didapat dari Allah oleh orang yang pergi berjuang dijalan Allah?. Imam Ali as menjawab:”Pertanyaan sama yang pernah saya tanyakankepada Rasulullah ketika beliau sedang duduk diatas untanya, dan Rasulullah menjawab;”Ketika seorang pejuang berkeinginan untuk berjuang, maka Allah akan menjauhkannya dari api neraka. Ketika dia siap bersiaga hendak pergi berperang, Allah mengagungkannya dihadapan para malaikat. Ketika dia meminta diri dari keluarganya, rumah dan dinding akan menangis karenanya. Allah akanmengirimkan 40.000 malaikat untuk menjaganya dari semua arah. Allah akan menggandakan setiap perbuatan baiknya. Setiap harinya dia akan menerima pahala 1000 orang yang shalat, yang shalat 100 tahun untuknya. Ketika dia menghadapi musuh, tidak seorangpun akan dapat menghitung pahalanya. Ketika dia berperang dengan pedang dan perisainya, para malikat datang kepadanya seraya mendoakannya agar dapat tertolong dan tetap tabah”.
Tentang pahala; ketika seorang muslim mendapatkan cedera luka dia bertahan dan merasa seperti minum air di musim panas. Ketika dia jatuh dari kudanya, sebelum menyentuh tanah, para malaikat surga berdatangan kepadanya memberitahukan kepadanya tentang pahala yang telah dipersiapkan Allah untuknya disorga. Ketika dia sudah jatuh ditanah,para malikat mengucapkan selamat padanya, dan menyatakan bahwa kedamaian akan datang pada jiwa yang telah meninggalkan tubuh yang suci itu. Mereka (malaikat) mengucapkan selamat atas pemberian pahala Allah yang tidak pernah didengar dan tidak pernah dilihat tenangnya.
Kemudian Allah berfirman:”Saya Pelingdungnya dan Pelingdung kelaurganya. Mereka yang mengembirakan mereka sama dengan menggembirakan Saya. Barang siapa marah kepada mereka maka sama juga denganmemarahi saya. Allah akan membangunkan 70 kamar disorga bagi mereka satu persatu. jarak antara satu kamar dengankamar lain seperti jarak antara San’a (Yaman) dengan Syiria. Cahaya yangmenerangi seperti menerangi timur dan barat. Stiap kamar ada 70 pintu, dan pada setiap pintunya terdapat tabir. Setiap kamar akan ada 70 tenda, dan setiap tenda akan ada 70 alas yangmana kakinya dari safir dan ya’qut. Dari setiap alas ada 40 tempat tidur. Disetiap[ tempat tidur ada 2 bidadari dengan semua kecantikannya”.
Orang itu meminta kepada Amiril Mukminin untuk menjelaskan tentang bidadari. Imam Ali as menjelaskan tentang bidadari dengan mengatakan:”Mereka sangat cantik dan menarik . mereka masing masing memiliki 1000 pembantu dan 1000 budak. Wajahnya bagaikan bulan. Mahkotanya adalah manik dan manikam. Mereka mengenakan selendang di punggungnya. Mereka akan membawakan gelas ketika hari pengadilan, dan mereka akan berada disana. Demi Allah yang mana kehidupanMuhammad diTanganNya. Ketika Rasulullah datang menghampiri mereka, mereka semuakan turun dari istana istananya. Para syuhada’ akan berdiri di tempat safa’at. Setiap syahid akan dibenarkan mensyafaati 70.000 orang orang yang berdosa. Mereka akan memberikan syafaat kepada keluarga, kawan, sanak dan saudara. Dua tetangga akan salaing bertengkar yang satu sama lain menyatakan bahwa dirinya lebih dekat kepadanya. Para syuhada’ akan duduk bersama nabi Ibrahim as satu meja makan di sorga . Allah akan meliahtnya dengan penuh kasih. Mereka akan menikmati rizki pahala Allah siang dan malam”. (Tafsir Jalaul Azhan, jld 2 hal 151-153).
Efek dari syahid
Tidak akan ada yang dapat menghitung efek dari para syuhada. Adanya efek yang mendunia dari syhada’, begitu juga adanya efek yang bersifat spiritual. Seperti: para syuhada’ akan membangkitkan semangat juang dijalan agama, sebagaimana semangat untuk mempertahanakan agama. Syahid telah mengajarkan kepada kita untuk mengorbankan segala sesuatu yang dicintainya dijalan Allah. Merekapun akan menjadi cahaya yang menghidayahi kehidupan masyarakat. Kemudian menumbuhkan semangat perjuangan dihati anak anak kita.. .dan juga akan terbebas dari segala kemiskinan.
Imam Ja’far bersabda:”Semua kebaikan terdapat di pedang, dikedalaman pedang dan juga dibawah bayangan pedang. Orang tidak akan dapat bertahan kecuali dengan pedang. Juga, pedang adalah kunci sorga dan neraka”. .(Wasail Syiah jld 11 bab perjuangan hal 5 hds 1). Tedapat juga riwayat yang dihaditskan oleh Imam Ja’far as yang mengatakan bahwa Rasulullah berkata:”Ada satu pintu di sorga dinamakan “Pintu Mujahidin”. Para mujahidin akan masuk ke sorga melalui pintu yang terbuka untuk mereka itu. Mereka akan datang dengan membawa pedang mereka. Mereka akan berkumpul dan para malaikat akan mengucakpan selamt datang pada mereka.
Barang siapa meningalkan perjuangan, Allah akan murka kepada mereka. Akan diturunkan kemiskinan kepada mereka, dan nama mereka akan digolongkan sebagai penghancur agama. Rasulullah bersabda:”Allah telah menjadikan umatku mandiri melalui punggung kuda dan tombak”.(Wasail Syiah jld 11 bab perjuangan hal 5 hds 2).
Juga diriwayatkan persiapan pendidikan anak untuk tegar dengan kesusahan dan siap untuk berjuang; Imam Ja’far bersabda:”Berjuanglah dan jadikan anakmu pewaris dari dinamika perjuangan”.(Wasail Syiah jld 11 bab Jihad hal 9 hds 16). [IM/R]